Seiring berkembangnya wilayah perkotaan, masyarakat di kota menghadapi berbagai tantangan seperti polusi udara, meningkatnya suhu, dan ketidakamanan pangan. Urban agriculture (UA), yaitu praktik menanam tanaman di dalam atau sekitar kota, muncul sebagai solusi yang praktis dan inovatif. Selain menjadi pasokan pangan alternatif, Urban agriculture (UA) memberikan kontribusi besar terhadap keberlanjutan lingkungan. UA membantu mengurangi :
- Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
- Mendinginkan dan Mengurangi Efek Panas di Kota
- Meningkatkan Keanekaragaman Hayati
- Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya
1. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Salah satu kontribusi paling nyata dari urban agriculture adalah pengurangan emisi greenhouse gas (GHG). Makanan yang ditanam secara lokal tidak perlu diangkut jauh, sehingga mengurangi “food miles”. Hal ini berarti lebih sedikit transportasi di jalan raya yang digunakan dan lebih sedikit bahan bakar yang terbakar.
Selain itu, banyak lahan pertanian kota menggunakan metode organik tanpa pupuk kimia dan pestisida, yang menurunkan emisi gas seperti nitrous oxide yang biasanya dilepaskan oleh pertanian konvensional. Dengan mengurangi ketergantungan pada produk hewani yang melepaskan emisi dalam jumlah besar, UA juga mendukung gaya hidup rendah karbon.
2. Mendinginkan dan Mengurangi Efek Panas di Kota
Daerah perkotaan sering kali lebih panas dibandingkan daerah pedesaan sekitarnya, sebuah fenomena yang dikenal sebagai urban heat island effect. Hal ini terutama disebabkan oleh permukaan beton dan aspal yang menyerap serta menyimpan panas. Urban agriculture membantu mengatasi masalah ini dengan menambahkan vegetasi yang menyejukkan udara melalui tutupan kanopi dan evapotranspirasi.
Green roofs, area perkebunan warga, dan vertical farms menyediakan potensi sumber pangan dan membantu mengurangi kebutuhan pendingin ruangan. Hasilnya, masyarakat perkotaan bisa lebih hemat energi, menurunkan emisi, dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih nyaman.
3. Meningkatkan Keanekaragaman Hayati
Pertumbuhan kota seringkali mengurangi keanekaragaman hayati, tetapi UA dapat membantu membalikan tren tersebut. Kebun, rumah kaca, dan lahan pertanian kota menyediakan habitat bagi penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu, serta serangga bermanfaat yang mengendalikan hama secara alami.
Penanaman beragam tanaman di kebun kota juga memperkaya ekosistem lokal dan membuatnya lebih tangguh terhadap tekanan lingkungan. Dengan mendorong penanaman baik tanaman pangan maupun non-pangan, UA membantu menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati di wilayah perkotaan.
4. Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya
UA juga mendukung keberlanjutan dengan cara mengubah limbah kota menjadi sumber daya berharga. Limbah organik rumah tangga, seperti sisa makanan, dapat dijadikan kompos dan digunakan kembali sebagai pupuk, sehingga mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Beberapa sistem bahkan mendaur ulang air limbah dan nutrien, menciptakan ekonomi sirkular di dalam kota. Hal tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya eksternal dan menurunkan jejak karbon dari produksi pangan.
Urban agriculture jauh lebih dari sekadar sarana penghasil pangan, UA juga mnejadi strategi dalam pembangunan wilayah kota yang berkelanjutan dan resilien. Dengan menurunkan emisi GRK, menyejukkan lingkungan perkotaan, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta mengubah limbah menjadi sumber daya, UA secara langsung menjawab tantangan lingkungan perkotaan. Seiring dengan terus berkembangnya kota-kota besar, adopsi urban agriculture menjadi salah satu solusi untuk menjadikan kota di masa depan tetap layak huni dan ramah lingkungan.
Baca juga:
Carbon Sequestration in Urban Areas
Urban agriculture bukan hanya cara untuk menyediakan pangan lokal, tapi juga berperan dalam mengurangi emisi dan meningkatkan keberlanjutan kota. Proyek yang dirancang dengan analisis kelayakan (feasibilty analysis) yang matang dan dokumentasi yang rapi memiliki potensi untuk diakui sebagai proyek karbon. Untuk memaksimalkan dampaknya, ide ini sebaiknya dikonsultasikan dengan konsultan yang berpengalaman di bidang proyek karbon.
Author: Ainur
Editor: Sabilla Reza
References:
Ebissa, G., Yeshitela, K., Desta, H., & Fetene, A. (2024). Urban agriculture and environmental sustainability. Environment, Development and Sustainability, 26(6), 14583-14599.
