Inilah Alasan Pupuk Eco-friendly Bisa Jadi Senjata Ampuh Mitigasi Perubahan Iklim!

Pupuk eco-friendly bukan sekadar nutrisi tanaman. Temukan perannya sebagai senjata ampuh mitigasi perubahan iklim diartikel ini!

Perubahan iklim merupakan tantangan besar abad ke-21 yang dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca dan penggunaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Pertanian berada di posisi unik: sektor ini sangat penting untuk ketahanan pangan, namun sekaligus menjadi penyumbang emisi yang signifikan. 

Produksi dan penggunaan pupuk menjadi salah satu faktor utama. Untuk itu, peralihan menuju pupuk ramah lingkungan (eco-friendly fertilizer) menjadi salah satu strategi untuk mendukung mitigasi iklim sekaligus menjaga kesehatan tanah dan kualitas air.

Mengenal Pupuk Sintetis Konvensional

Pupuk sintetis konvensional, terutama yang berbasis nitrogen, umumnya diproduksi melalui proses Haber-Bosch. Proses ini sangat boros energi karena bergantung pada bahan bakar fosil dan menyumbang hampir 2% dari total emisi karbon dioksida secara global.

Penggunaan yang berlebihan juga memicu pencemaran air melalui runoff nitrogen, menurunkan kualitas tanah, serta menghasilkan nitrous oxide (N₂O) yang merupakan gas rumah kaca dengan potensi pemanasan hampir 300 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida. Dampak tersebut yang menjadi pertimbangan bahwa pupuk konvensional dinilai tidak berkelanjutan.

4 Alternatif Pupuk Ramah Lingkungan

Terdapat beberapa alternatif pupuk ramah lingkungan sebagai berikut:

1. Pupuk Organik

Pupuk organik (seperti pupuk kompos dan pupuk kandang) dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta mendukung keanekaragaman mikroba tanah.

2. Biofertilizer

Selain itu, ada Biofertilizer yaitu pupuk yang memanfaatkan mikroorganisme yang membantu fiksasi nitrogen atau melarutkan fosfor, sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. 

3. Pupuk Lepas Lambat (Slow-release)

Terdapat juga Slow-release fertilizer yang dapat menjaga ketersediaan nutrisi dalam jangka waktu lebih lama, sehingga menekan risiko kehilangan nutrien ke lingkungan.

4. Green Ammonia

Yang terakhir, ada inovasi terbaru yaitu green ammonia, yaitu pupuk yang diproduksi dengan hidrogen menggunakan energi terbarukan (contoh: cahaya matahari, angin, atau air) alih-alih menggunakan bahan bakar fosil. Teknologi ini berpotensi mengurangi emisi karbon yang dihasilkan industri pupuk sekaligus meningkatkan kemandirian energi di sektor pertanian.

Baca juga:
Mengenal 5 Jenis Pupuk dan Fungsinya bagi Tanaman!

Kontribusi Pupuk Eco-Friendly bagi Mitigasi Iklim

Close-up of hands holding granular fertilizer in Bahawalpur, Pakistan.
Seseorang memegang pupuk.
Sumber: Pexel

Pupuk ramah lingkungan berperan dalam mitigasi iklim melalui tiga cara, diantaranya: 

  1. Pertama, pupuk ramah lingkungan dapat mengurangi emisi dari sisi produksi dengan mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. 
  2. Kedua, meningkatkan soil carbon sequestration melalui peningkatan kadar bahan organik pada tanah. Tanah yang sehat berfungsi sebagai penyerap karbon alami. 
  3. Ketiga, menekan emisi nitrous oxide selama pemupukan. Selain itu, pupuk ramah lingkungan dapat mendukung efisiensi penggunaan air, menjaga keanekaragaman hayati, dan meningkatkan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.

Meski potensinya besar, penerapan pupuk ramah lingkungan masih menghadapi kendala, seperti: biaya produksi seringkali lebih tinggi, infrastruktur terbatas, dan pemahaman petani masih rendah. Produksi green ammonia, misalnya, masih lebih mahal dibanding amonia konvensional karena biaya hidrogen terbarukan. Namun, peluangnya terus tumbuh seiring dukungan kebijakan pemerintah, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk berkelanjutan, serta perkembangan teknologi energi terbarukan.

Efektivitas pupuk ramah lingkungan akan semakin tinggi bila dipadukan dengan praktik pertanian yang berkelanjutan. Contohnya, penggunaan precision farming dengan sensor tanah atau panduan satelit yang memungkinkan aplikasi pupuk dalam dosis dan waktu yang tepat. Rotasi tanaman dan praktik conservation agriculture juga dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah. 

Salah satunya dengan mengkombinasikan pupuk organik dan biofertilizer diikuti dengan manajemen nutrien modern dapat menjaga produktivitas sekaligus menekan dampak lingkungan yang dihasilkan. Peralihan ke pupuk ramah lingkungan bukan hanya strategi teknis, tetapi juga dapat memperkuat dokumen lingkungan seperti AMDAL serta memperkaya isi Sustainability Reporting (SR) perusahaan Anda. Dengan perhitungan emisi yang akurat dan sistem MRV yang terintegrasi, konsultan berpengalaman dapat membantu memastikan bahwa kontribusi Anda terhadap mitigasi iklim terdokumentasi secara resmi dan diakui pemangku kepentingan.

Author: Ainur Subhan
Editor: Sabilla Reza

Referensi:

Ejedegba, E. O. (2024). Advancing green energy transitions with eco-friendly fertilizer solutions supporting agricultural sustainability. International Research Journal of Modernization in Engineering, Technology and Science, 6(12). https://doi.org/10.56726/IRJMETS65313

Lal, R. (2020). Advancing climate change mitigation in agriculture while meeting global sustainable development goals. In Soil and Water Conservation: A Celebration of 75 Years (pp. 13–20). Soil and Water Conservation Society. 

Hazra, G. (2016). Different types of eco-friendly fertilizers: An overview. Sustainability in Environment, 1(1), 54–70. https://doi.org/10.22158/se.v1n1p54

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *