Integrasi AFOLU dengan Standar ISSB dan GRI: Menyusun Laporan yang Diakui Global

Pelajari panduan integrasi sektor AFOLU dengan standar ISSB dan GRI bersama Validerra. Pastikan Sustainability Report Anda memenuhi standar pelaporan global yang kredibel!

Sektor AFOLU (Agriculture, Forestry, and Other Land Use) memiliki peran ganda dalam isu iklim global. Menurut IPCC AR6 (2023), AFOLU menyumbang sekitar 20–24% dari total emisi global, menjadikannya sektor kedua terbesar setelah energi.

Namun, sektor ini juga menawarkan potensi mitigasi besar melalui reforestasi, konservasi, dan praktik pertanian berkelanjutan. Bagi Indonesia, sektor AFOLU sangat relevan karena terkait langsung dengan komoditas ekspor utama seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kayu, dan karet.

Perusahaan dituntut menyusun sustainability report yang transparan, sesuai standar internasional, dan mendukung target nasional seperti Net Zero Indonesia 2060. Dua standar utama yang kini menjadi rujukan global adalah ISSB (International Sustainability Standards Board) dengan IFRS S1 & S2, serta GRI (Global Reporting Initiative).

Daftar Isi:

Pentingnya Standar Global

ISSB IFRS S2 menekankan bahwa disclosure iklim harus relevan bagi investor. Perusahaan agribisnis dan kehutanan dituntut menyajikan data kuantitatif mengenai emisi, risiko rantai pasok, serta strategi mitigasi.

Laporan berbasis angka yang dapat diverifikasi menjadi syarat utama agar investor dapat menilai risiko dan peluang jangka panjang. Sementara itu, GRI lebih menekankan keterlibatan stakeholder dan dampak sosial-ekonomi.

Studi akademis terbaru di Moggi (2023) menunjukkan bahwa penerapan GRI membantu perusahaan menyoroti aspek sosial, tetapi juga menghadapi tantangan berupa fragmentasi data dan rendahnya kapasitas manajemen di perusahaan kecil. Hal ini relevan bagi sektor AFOLU di Indonesia, yang melibatkan jutaan petani kecil dan komunitas lokal.

Integrasi ISSB dan GRI memberikan keseimbangan: ISSB berorientasi pada investor dengan fokus pada data kuantitatif, sedangkan GRI berorientasi pada stakeholder dengan fokus pada narasi sosial. Laporan keberlanjutan yang menggabungkan keduanya akan lebih komprehensif dan diakui secara internasional.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Perusahaan harus memastikan kesesuaian dengan ISSB, misalnya melaporkan intensitas emisi per ton produk atau data penyerapan karbon dari agroforestry. Hal ini sejalan dengan temuan IPCC bahwa AFOLU tidak hanya sumber emisi, tetapi juga penyedia solusi mitigasi yang signifikan.

Selain itu, laporan harus memenuhi standar GRI dengan menekankan aspek sosial. Kondisi kerja petani, program kesejahteraan masyarakat, serta kontribusi terhadap pembangunan pedesaan harus dicatat.

Studi Moggi (2023) menekankan bahwa tanpa keterlibatan stakeholder, laporan keberlanjutan berisiko dianggap tidak relevan oleh masyarakat lokal. Kredibilitas data juga menjadi kunci.

Sistem MRV (Measurement, Reporting, Verification) berbasis prinsip transparansi dan konsistensi harus diterapkan agar data dapat diverifikasi secara independen. Dengan MRV, laporan keberlanjutan tidak hanya naratif, tetapi berbasis bukti yang dapat dipercaya.

Tantangan

Integrasi AFOLU dengan ISSB dan GRI menghadapi hambatan nyata. Rantai pasok yang terfragmentasi membuat verifikasi sulit dilakukan, terutama pada petani kecil. Biaya audit independen juga tinggi, sehingga menjadi beban bagi perusahaan menengah dan kecil.

Selain itu, perbedaan fokus ISSB dan GRI menuntut perusahaan menyusun laporan yang seimbang. ISSB menekankan data kuantitatif untuk investor, sementara GRI menekankan narasi sosial untuk stakeholder.

Studi Moggi (2023) menunjukkan bahwa banyak perusahaan kesulitan menyeimbangkan keduanya, terutama ketika kapasitas internal terbatas.

Peluang Strategis

Meski penuh tantangan, integrasi AFOLU dengan ISSB dan GRI membuka peluang besar. Perusahaan yang mampu menyajikan laporan sesuai standar internasional akan lebih dipercaya oleh investor global.

Hal ini memperkuat daya saing ekspor, terutama di pasar yang semakin menuntut transparansi iklim seperti Uni Eropa. Selain itu, laporan keberlanjutan yang komprehensif membuka akses ke green finance.

Investor hijau dan lembaga keuangan berkelanjutan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki laporan kredibel. Dengan demikian, sustainability report bukan hanya dokumen kepatuhan, tetapi juga tiket menuju pembiayaan berkelanjutan.

Integrasi ini juga mendorong transformasi sektor agribisnis Indonesia. Dengan standar ISSB dan GRI, perusahaan terdorong untuk mengadopsi praktik produksi yang lebih etis, ramah lingkungan, dan inklusif terhadap masyarakat lokal.

Kesimpulan

Integrasi AFOLU dengan standar ISSB dan GRI adalah langkah strategis bagi perusahaan Indonesia. Dengan menyajikan data emisi, perubahan tutupan lahan, praktik pertanian berkelanjutan, serta aspek sosial-ekonomi sesuai standar global, sustainability report menjadi dokumen yang diakui internasional.

Pada akhirnya, laporan keberlanjutan yang selaras dengan ISSB dan GRI, diperkuat oleh data kuantitatif dari IPCC dan perspektif kritis dari studi Moggi (2023), bukan hanya memenuhi tuntutan pasar, tetapi juga memperkuat reputasi Indonesia sebagai pemain utama dalam perdagangan berkelanjutan. Sustainability report yang mengintegrasikan AFOLU adalah fondasi strategis untuk membangun kepercayaan, membuka akses pasar premium, dan mendukung transformasi menuju ekonomi hijau.

Konsultasi Bersama Validerra!

Pastikan perusahaan Anda menerapkan langkah yang tepat dalam “Integrasi AFOLU dengan Standar ISSB dan GRI: Menyusun Laporan yang Diakui Global”. Konsultasikan penyusunan laporan keberlanjutan Anda bersama tim ahli Validerra sekarang!

Author: Nadhif
Editor: Lina

Referensi

Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC.

Moggi,S. (2023). Sustainability reporting and GRI applicability: Challenges and opportunities. Sustainability Accounting, Management and Policy Journal, 14(4): 699–742