Sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya, yang dikenal luas sebagai AFOLU, memainkan peran penting dalam emisi karbon global. AFOLU merupakan salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O). Pada saat yang sama, sektor ini juga memiliki potensi besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon di hutan, lahan gambut, dan tanah pertanian. Artikel ini membahas bagaimana AFOLU berkontribusi terhadap jejak karbon, dampaknya, serta strategi mitigasi yang mungkin dilakukan.
Apa yang Dimaksud dengan Jejak Karbon AFOLU?
Jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia, termasuk dari sektor AFOLU. Pada pertanian, emisi terutama berasal dari penggunaan pupuk, limbah ternak, dan pengelolaan lahan. Dalam kehutanan, deforestasi dan degradasi hutan melepaskan karbon yang tersimpan ke atmosfer. Sementara itu, perubahan penggunaan lahan pada area gambut untuk perkebunan atau aktivitas pertambangan secara signifikan meningkatkan emisi karbon akibat pelepasan karbon tanah.
1. Pertanian (Agriculture) dan Emisi Karbon
Pertanian menyumbang emisi gas rumah kaca melalui berbagai cara. Misalnya, produksi padi menghasilkan metana melalui fermentasi anaerob di lahan tergenang. Sektor peternakan juga menjadi kontributor utama, karena hewan ruminansia menghasilkan metana selama proses pencernaan. Selain itu, penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan melepaskan dinitrogen oksida, gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibandingkan CO₂.
2. Perhutanan (Forestry) dan Deforestasi
Hutan memiliki peran ganda dalam siklus karbon. Hutan yang sehat berfungsi sebagai penyerap karbon dengan menyimpan CO₂ pada pohon dan tanah. Namun, ketika hutan ditebang atau dibakar, karbon yang tersimpan dilepaskan kembali ke atmosfer. Deforestasi di kawasan tropis, termasuk Indonesia, merupakan salah satu sumber emisi global terbesar. Selain dampak iklim, deforestasi juga mengurangi keanekaragaman hayati dan meningkatkan risiko bencana lingkungan seperti banjir dan tanah longsor.
3. Penggunaan Lahan (Land Use) dan Lahan Gambut
Lahan gambut adalah salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia. Sayangnya, pengeringan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit, pembangunan infrastruktur, atau penggunaan lahan lainnya menyebabkan pelepasan karbon dalam jumlah besar. Kebakaran hutan dan lahan gambut memperburuk masalah ini dengan menghasilkan polusi asap berskala besar yang berdampak pada kesehatan dan mengganggu perekonomian regional. Oleh karena itu, pengelolaan lahan yang berkelanjutan sangat penting untuk mengurangi jejak karbon AFOLU.
4. Mitigasi Jejak Karbon AFOLU
Mengurangi emisi di sektor AFOLU memerlukan strategi yang terintegrasi. Pertama, praktik pertanian berkelanjutan seperti penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, dan precision farming dapat membantu mengurangi emisi. Kedua, mencegah deforestasi dan meningkatkan program reforestasi sangat penting untuk menjaga fungsi hutan sebagai penyerap karbon. Ketiga, melindungi lahan gambut dan menerapkan tata kelola lahan yang bertanggung jawab merupakan langkah krusial. Selain itu, solusi berbasis alam seperti agroforestry, yang mengintegrasikan pohon ke dalam sistem pertanian, dapat meningkatkan penyerapan karbon sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat.
Baca juga:
Strategi Proyek Karbon yang Belum Banyak Digarap, Namun Mempercepat Mitigasi Iklim
Pada akhirnya, jejak karbon dari sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya adalah isu sentral dalam upaya global melawan perubahan iklim. AFOLU merupakan sumber emisi utama sekaligus peluang penting untuk mitigasi. Dengan kebijakan berkelanjutan, inovasi teknologi, dan partisipasi masyarakat, sektor ini dapat berkontribusi besar dalam mencapai target net zero. Bagi negara seperti Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati melimpah dan hutan tropis yang luas, pengelolaan AFOLU secara efektif bukan hanya tanggung jawab lingkungan, tetapi juga komitmen penting bagi iklim global.
Ingin memastikan proyek AFOLU anda berjalan sesuai standar internasional sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi? IML Carbon siap mendampingi melalui layanan Project Documentation dan Advisory Services khusus untuk sektor AFOLU. Mulai dari penyusunan dokumen Verra, baseline studi, hingga strategi mitigasi berbasis lahan, tim kami membantu anda membuat keputusan yang lebih terukur dan efektif. Hubungi IML Carbon untuk memastikan setiap langkah pengelolaan AFOLU anda berbasis data yang kuat, memenuhi standar Verra, dan menghasilkan dampak iklim yang benar-benar terukur.
Penulis: Indah Nurharuni
Editor: Sabilla Reza
Referensi:
Smith, P., Bustamante, M., Ahammad, H., et al. (2014). Agriculture, Forestry and Other Land Use (AFOLU). In: Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Cambridge University Press.
Carlson, K. M., Curran, L. M., Asner, G. P., Pittman, A. M., Trigg, S. N., & Adeney, J. M. (2013). Carbon emissions from forest conversion by Kalimantan oil palm plantations. Nature Climate Change, 3(3), 283–287. https://doi.org/10.1038/nclimate1702
Hooijer, A., Page, S., Canadell, J. G., Silvius, M., Kwadijk, J., Wösten, H., & Jauhiainen, J. (2010). Current and future CO₂ emissions from drained peatlands in Southeast Asia. Biogeosciences, 7(5), 1505–1514. https://doi.org/10.5194/bg-7-1505-2010
