Sustainability Report dengan Penyelarasan GRI dan IFRS

GRI dan IFRS kini jadi acuan untuk sustainability report. Bagaimana menyelaraskan keduanya agar lebih tepat dan relevan? Temukan strateginya, baca artikelnya disini.

Beberapa tahun terakhir, sustainability report tidak lagi dipandang sebagai dokumen “tambahan” yang hanya digunakan untuk mempercantik laporan tahunan. Investor, pemerintah, hingga masyarakat umum kini ingin memahami bagaimana sebuah perusahaan benar-benar mengelola dampak lingkungan dan sosialnya secara transparan dan terukur.

Perbedaan Fokus Dampak vs. Risiko Finansial

Secara sederhana, GRI membantu perusahaan menjelaskan dampak kegiatan mereka terhadap 3 aspek yaitu: ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. Pendekatannya luas dan ditujukan untuk berbagai pemangku kepentingan, bukan hanya investor. Artinya, isu seperti hak pekerja, limbah, atau dampak terhadap komunitas lokal mendapat perhatian yang cukup besar dalam laporan berbasis GRI.

Sementara itu, IFRS S1 dan S2 lebih berfokus pada informasi keberlanjutan yang berkaitan langsung dengan kondisi dan prospek keuangan perusahaan. Standar ini dirancang untuk membantu investor memahami risiko dan peluang keberlanjutan yang bisa memengaruhi kinerja finansial. IFRS S1 mengatur persyaratan umum pengungkapan, sedangkan IFRS S2 secara khusus membahas isu iklim.

Sedangkan, IFRS menggunakan materialitas finansial tunggal. Informasi dianggap penting jika berpotensi memengaruhi keputusan investor. Artinya, suatu isu sosial bisa saja sangat relevan menurut GRI, tetapi tidak menjadi prioritas dalam IFRS jika tidak berdampak signifikan pada aspek keuangan.

Bagaimana Keduanya Bisa Selaras?

Walaupun berbeda sudut pandang, GRI dan IFRS tidak harus dipilih salah satu. Keduanya justru bisa diselaraskan untuk menghasilkan laporan yang lebih kuat. Struktur IFRS yang mencakup tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target dapat dipetakan dengan pengungkapan dalam Standar GRI

Sebagai contoh, dalam pelaporan emisi gas rumah kaca, GRI sudah menyediakan panduan rinci terkait pengungkapan emisi. Informasi ini kemudian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengungkapan iklim dalam IFRS S2, terutama yang berkaitan dengan risiko dan target pengurangan emisi.

Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak perlu membuat dua laporan yang sepenuhnya terpisah, melainkan satu laporan yang terintegrasi. Penyelarasan antara GRI dan IFRS membantu perusahaan menyampaikan cerita yang lebih utuh.

Di satu sisi, perusahaan tetap transparan tentang dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Di sisi lain, mereka juga menunjukkan bagaimana isu keberlanjutan memengaruhi strategi dan kinerja keuangan.

Bagi pembaca umum, ini berarti sustainability report menjadi lebih mudah dipahami dan lebih relevan. Tidak hanya berbicara tentang komitmen, tetapi juga tentang risiko nyata, strategi, dan target yang terukur. Ketika GRI dan IFRS digunakan bersama, sustainability report tidak hanya informatif, tetapi juga lebih kredibel dan terhubung dengan dunia bisnis yang sesungguhnya.

Melihat pentingnya penyelarasan antara GRI dan IFRS, tantangan bagi banyak perusahaan bukan lagi memilih standar yang digunakan, tetapi bagaimana mengintegrasikan keduanya menjadi laporan yang konsisten, efisien, dan tetap relevan bagi berbagai pemangku kepentingan.

Author: Ainur
Editor: Shoofi

Referensi

Teixeira, S. J. (2025) Comparative Analysis between Companies that Adopt GRI Standards and Those that Follow only IFRS (ISSB)-Sustainability Report. International Journal of Current Science Research and Review. Volume 08 Issue 10 October 2025 DOI: 10.47191/ijcsrr/V8-i10-23

PwC. (2023). Strategi penyelarasan The GRI Standards 2021 dengan IFRS Sustainability Disclosure Standards S1 dan S2. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *