Sustainable Agriculture Menjadi Solusi Ampuh Hadapi Krisis Iklim

Cari tahu bagaimana sustainable agriculture bisa menjadi kunci mengatasi perubahan iklim sekaligus menjamin pangan berkelanjutan bagi generasi mendatang!

Sustainable agriculture atau pertanian berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai sistem pertanian yang memenuhi kebutuhan pangan saat ini sekaligus menjaga lingkungan, mempertahankan kesuburan tanah, dan memastikan generasi mendatang tetap dapat memproduksi pangan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada keseimbangan antara produktivitas dan integritas ekologi. Dalam konteks perubahan iklim, sustainable agriculture memiliki peran ganda: menyesuaikan sistem pangan agar lebih tahan terhadap perubahaan iklim dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari kegiatan pertanian.

Jejak Emisi Pertanian terhadap Krisis Iklim

Pertanian merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca. Secara global, aktivitas pertanian menyumbang sekitar sepertiga dari total emisi antropogenik, terutama melalui karbon dioksida dari perubahan penggunaan lahan, metana dari peternakan dan pertanian, serta dinitrogen oksida dari pupuk sintetis. Emisi ini dapat dibedakan menjadi emisi langsung dan tidak langsung.

1. Emisi Langung

Emisi langsung berasal dari aktivitas di lahan pertanian, seperti pengolahan tanah, aplikasi pupuk, irigasi, dan pengelolaan kotoran ternak.

2. Emisi Tidak Langsung

Emisi tidak langsung muncul dari proses di luar lahan, misalnya produksi pupuk dan pestisida, pengolahan pangan, pengemasan, serta transportasi.

Read more:
Siapa Sebenarnya Menanggung Beban dalam Transisi Rendah Emisi?

Ancaman Perubahan Iklim bagi Ketahanan Pangan dan Ekosistem

Farmer carrying rice seedlings across misty farmland early in the morning.
Petani membawa bibit padi melintasi lahan pertanian berkabut di pagi hari. Sumber: Pexel

Perubahan iklim membawa risiko serius bagi pertanian dan ketahanan pangan. Peningkatan suhu, makin seringnya kejadian cuaca ekstrem, serta penurunan kesehatan tanah membuat produksi pangan semakin sulit dipertahankan. Selain itu, kualitas gizi tanaman juga dapat menurun karena konsentrasi karbon dioksida yang lebih tinggi dapat mengurangi kadar protein dan mikronutrien pada tanaman pokok seperti gandum dan padi.

Lonjakan jumlah penduduk dunia menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis pangan. Pertumbuhan populasi global saat ini tidak sejalan dengan peningkatan produktivitas pangan. Bahkan, diperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk dunia akan menembus 10 miliar jiwa, sehingga dibutuhkan tambahan produksi pangan hingga 60% untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Praktik Berkelanjutan untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim

Sejumlah praktik telah diidentifikasi sebagai strategi efektif untuk membuat pertanian lebih berkelanjutan sekaligus menghadapi perubahan iklim. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan adalah conservation agriculture. Conservation agriculture yang mencakup olah tanah minimal, penggunaan tanaman penutup, serta rotasi tanaman membantu mengurangi erosi tanah dan meningkatkan penyimpanan karbon organik.  

Selain itu, agroforestry, atau integrasi pohon ke dalam sistem pertanian, mampu memperkaya keanekaragaman hayati, menyediakan naungan, serta memperbesar penyerapan karbon baik di tanah maupun biomassa pohon. Sementara itu, pengelolaan pupuk kandang dan pemanfaatan biofertilizer dapat menurunkan ketergantungan pada pupuk sintetis, sehingga emisi dinitrogen oksida ikut berkurang. Terakhir, penerapan integrated pest management juga efektif menekan penggunaan pestisida kimia dan membantu menjaga ekosistem tanah tetap sehat.

Peran Pendekatan Agrosystem

Perspektif terbaru menekankan perlunya pendekatan agrosystem, yaitu integrasi dimensi ekologi, sosial, budaya, dan ekonomi dalam praktik pertanian. Pendekatan ini melihat ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga distribusi, keadilan terhadap masyarakat, dan resiliensi komunitas pedesaan.

 Resiliensi adalah kemampuan seseorang, kelompok, atau sistem untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali ketika menghadapi tekanan, tantangan, atau perubahan, baik yang bersifat mendadak maupun jangka panjang.

Dengan memasukkan pengetahuan tradisional masyarakat adat, ekonomi sirkular, serta sistem pangan berbasis komunitas, model agrosystem mampu mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus kesejahteraan sosial. Pendekatan ini juga mendorong pengurangan limbah pangan, diversifikasi pola konsumsi, serta produksi pangan lokal yang dapat menekan emisi dan meningkatkan ketahanan.

Ekonomi sirkular adalah model ekonomi yang menekankan pemanfaatan sumber daya secara berulang melalui prinsip mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle), sehingga limbah dapat ditekan seminimal mungkin.

Berdasarkan prinsip-prinsip dalam pendekatan agrosystem, berkembang pula konsep sustainable agriculture sebagai pendekatan yang lebih luas. Sustainable agriculture menawarkan solusi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memastikan ketahanan pangan. Melalui pengurangan emisi, pemulihan tanah terdegradasi, serta penerapan praktik ekologis dan berbasis komunitas, pertanian dapat beralih dari penyumbang utama emisi menjadi bagian dari solusi. 

Transisi ini memerlukan perubahan paradigma dari sistem ekstraktif menuju praktik regenerative yang resilien dan selaras dengan proses alami. Solusi ini tidak hanya membantu mitigasi perubahan iklim, tetapi juga menjamin ekosistem yang lebih sehat serta sistem pangan yang lebih adil di masa depan. Transisi ini memerlukan perubahan paradigma dari sistem ekstraktif menuju praktik regenerative yang resilien dan selaras dengan proses alami.

Solusi ini tidak hanya membantu mitigasi perubahan iklim, tetapi juga menjamin ekosistem yang lebih sehat serta sistem pangan yang lebih adil di masa depan. Untuk memastikan strategi tersebut dapat diakui secara internasional, penyusunan Project Design Document (PDD) menjadi langkah penting dalam menghadirkan dokumentasi yang kredibel dan sesuai standar global. Namun penyusunan PDD ini di lakukan oleh konsultan berpengalaman.

Author: Ainur Subhan
Editor: Sabilla Reza Pangestika

Referensi:

Lal, R. (2020). Advancing climate change mitigation in agriculture while meeting global sustainable development goals. In Soil and Water Conservation: A Celebration of 75 Years (pp. 13–26). Soil and Water Conservation Society.

Shahmohamadloo, R. S., Febria, C. M., Fraser, E. D. G., & Sibley, P. K. (2021). The sustainable agriculture imperative: A perspective on the need for an agrosystem approach to meet the United Nations Sustainable Development Goals by 2030. Integrated Environmental Assessment and Management, 18(5), 1199–1205. https://doi.org/10.1002/ieam.4558

Media Keuangan. (2023, September 27). Menjaga Ketahanan Pangan dari Krisis Pangan. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/menjaga-ketahanan-pangan-dari-krisis-pangan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *