Dalam beberapa tahun terakhir, dunia bisnis semakin menekankan pentingnya sustainability report yang kredibel dan dapat dibandingkan lintas negara.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, International Sustainability Standards Board (ISSB) meluncurkan standar global IFRS S1 dan IFRS S2. Standar ini bertujuan menyatukan praktik sustainability report agar lebih konsisten, transparan, dan relevan bagi investor.
Indonesia pun tidak tinggal diam. Melalui Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah telah menyiapkan roadmap menuju adopsi standar ISSB. Namun, proses ini bukan tanpa tantangan.
Daftar isi :
- Apa Itu Standar ISSB?
- Langkah Indonesia Menuju Adopsi
- Tantangan Adopsi di Indonesia
- Dampak dan Peluang
- Strategi Menghadapi Tantangan
Apa Itu Standar ISSB?
ISSB adalah lembaga internasional di bawah IFRS Foundation yang bertugas mengembangkan standar pelaporan keberlanjutan. Dua standar utama yang telah diterbitkan adalah:
- IFRS S1: General Requirements for Sustainability related Financial Disclosures, yang mengatur prinsip umum pengungkapan keberlanjutan.
- IFRS S2: Climate related Disclosures, yang fokus pada pengungkapan risiko dan peluang terkait iklim.
Tujuan utama ISSB adalah menciptakan kerangka pelaporan yang dapat dibandingkan lintas negara, sehingga investor global memiliki dasar yang konsisten dalam menilai kinerja keberlanjutan perusahaan.
Langkah Indonesia Menuju Adopsi
Pada Juli 2025, Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (DSK IAI) resmi meratifikasi Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) pertama di Indonesia, yaitu PSPK 1 dan PSPK 2. Standar ini merupakan adaptasi dari IFRS S1 dan S2, dan akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027.
Peluncuran SPK merupakan implementasi dari roadmap yang diterbitkan pada Desember 2024. Roadmap tersebut menegaskan arah strategis pengembangan standar pengungkapan keberlanjutan di Indonesia secara bertahap.
Selain IAI, OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan juga terlibat dalam kolaborasi untuk memastikan standar ini dapat diterapkan secara nasional.
Tantangan Adopsi di Indonesia
Meski langkah awal sudah dilakukan, terdapat sejumlah tantangan besar dalam adopsi ISSB di Indonesia:
- Kapasitas teknis terbatas Jumlah profesional yang memahami standar ISSB masih sedikit. Auditor, akuntan, dan manajemen perusahaan perlu pelatihan intensif agar mampu menyusun laporan sesuai standar baru.
- Biaya implementasi tinggi Perusahaan menengah dan kecil menghadapi kesulitan karena penerapan standar ISSB membutuhkan investasi besar dalam sistem data, verifikasi, dan pelatihan.
- Kesiapan data Infrastruktur data keberlanjutan di Indonesia masih lemah. Banyak perusahaan belum memiliki sistem pengumpulan data emisi, energi, dan indikator sosial yang rapi.
- Kesadaran manajemen rendah Sebagian perusahaan masih melihat sustainability report sebagai beban regulasi, bukan peluang strategis. Hal ini membuat adopsi ISSB berjalan lambat.
- Sinkronisasi regulasi Indonesia perlu menyesuaikan standar ISSB dengan kebutuhan lokal, termasuk harmonisasi dengan regulasi OJK dan kebijakan nasional.
Baca juga :
Standar Baru ISSB 2025: Perubahan Terbaru & Ringkasan Pelaporan
Dampak dan Peluang
Meski penuh tantangan, adopsi ISSB membawa peluang besar bagi Indonesia:
- Meningkatkan kredibilitas laporan: sustainability report yang sesuai ISSB lebih dipercaya investor global.
- Menarik investasi hijau: perusahaan yang patuh pada standar ISSB lebih mudah mengakses green finance.
- Memperkuat daya saing ekspor: pasar Eropa dan Amerika menuntut transparansi ESG, sehingga perusahaan Indonesia yang patuh ISSB lebih kompetitif.
- Posisi strategis regional: Indonesia berpotensi menjadi pusat praktik pelaporan keberlanjutan di Asia Tenggara jika berhasil mengimplementasikan ISSB dengan baik.
Namun, risiko juga ada. Perusahaan yang lambat beradaptasi bisa tertinggal dalam persaingan global dan kehilangan akses ke pasar internasional.
Strategi Menghadapi Tantangan
Untuk memastikan adopsi ISSB berjalan efektif, beberapa strategi dapat dilakukan:
- Capacity building: pelatihan intensif bagi auditor, akuntan, dan manajemen perusahaan.
- Dukungan regulasi: pemerintah perlu memberikan insentif, misalnya keringanan pajak atau subsidi bagi perusahaan yang berkomitmen pada pelaporan keberlanjutan.
- Kolaborasi internasional: bekerja sama dengan lembaga global untuk transfer pengetahuan dan benchmarking.
- Digitalisasi sistem pelaporan: penggunaan teknologi seperti IoT dan blockchain untuk mempermudah pengumpulan dan verifikasi data.
Kesimpulan
Adopsi standar ISSB adalah langkah penting bagi Indonesia untuk menyelaraskan diri dengan praktik global. Tantangan memang nyata mulai dari kapasitas teknis, biaya, hingga kesadaran manajemen tetapi peluang strategis yang ditawarkan sangat besar.
Perusahaan yang proaktif dalam mengadopsi ISSB akan lebih siap menghadapi tuntutan global, menarik investasi hijau, dan memperkuat daya saing ekspor. Pada akhirnya, ISSB bukan sekadar standar pelaporan, melainkan fondasi baru bagi reputasi dan keberlanjutan bisnis di Indonesia.
Melihat kompleksitas tantangan dalam adopsi standar ISSB, Standar yang semakin ketat menuntut bukan hanya pemahaman, tetapi juga kesiapan data, sistem, dan strategi pelaporan yang terintegrasi.
Tanpa pendekatan yang tepat, upaya memenuhi standar justru berisiko menjadi beban, bukan nilai tambah. Melalui layanan penyusunan Sustainability Report dari Validerra, perusahaan Anda dapat didampingi dalam menyusun laporan yang selaras dengan standar ISSB, lebih terstruktur, dan siap menjawab ekspektasi investor global.
Dengan begitu, proses adaptasi tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat posisi bisnis di pasar yang semakin kompetitif.
Author: Nadhif
Editor: Shoofi
Referensi
ANTARA News. (2025, July). Indonesia unveils global-standard sustainability reporting system. ANTARA News Agency.
IFRS Foundation. (2025). Jurisdictional Snapshot: Indonesia. IFRS Foundation. Retrieved from https://www.ifrs.org
Ikatan Akuntan Indonesia. (2024). Roadmap of Indonesian Sustainability Disclosure Standards (ISDS). Jakarta: IAI.
